Fenomena film dilan

Siapa yang tidak mengenal dilan akhir alhir ini. Semua kenal, semua membicarakan..film lover atau org yg sama sekali blm menginjak bioskop pun seolah penasaran dengan film ini...
Kalau saya pribadi dilan bukan hal yg baru...sudah sya kenal sejak saya baca novelnya awal tahun lalu...dmn heboh hebohnya novel ini mau divisualkan ke film.
Ketika novel dilan di depan mata...dengan cover warna biru, cukup tebal. ekspetasi saya begitu tinggi, bukan krn cover atau tebalnya tentunya. Tapi krn ribuan koment dan hebohnya novel ini sudah bukan rahasia lagi. Di tambah embel embel ini real story. Membuat orang begitu hanyut dalam kalimat di novel ini. Mestinya saya juga akan suka. Pikir saya.
Namun ketika saya membaca halaman demi halaman di awal. Saya begitu kaget. Kalimat yang disusun pidi baiq ini begitu biasa saja kalau gag mau di katakan aneh. Dengan sett org pertama pelaku utama. Millea si aku di novel ini. Hingga sisi milea semua terkuak. Jadi kurang dapat feel.nya ketika gombalan dilan di keluarkan. Knp??krn setting di novel ini menggabarkan milea yg menceritakan masa lalunya....tpi begitu hafal gombalan dilan.. yg....okelah kali ini q puji...memang gombalan dilan ini anti mainstream. Hanya dilan seorang yg punya skill nggombal seperti ini.
Well, saya lupakan keanehan penyusunan kalimat sang penulis handal best seller. Saya berfikir mungkin yg di sukai jutaan reader di luar sana adalah hal lain. Dan saya pikir klimaksnya pasti yg bikin semua baper dan mewek. Karena bagus tidaknya kalimat atau penyusunan kalimat itu relatif. Saya baca halaman demi halaman hingga selesai dilan 1990...bberapa kali saya di bikin ketawa dengan gombalan dilan...sikapnya yg anti mainstream...tapi klimaksnya???nothing. Semua mulus halus seperti pipi janda kembang desa. Ibarat di bikin garis tak ada puncak klimaks yg menjulang...hnya ada bbrapa gundukan pasir yg tak seberapa. Dan itu tak ubahnya spt diary. Dan mmg iya...ini diary.nya si milea. Tapi rasa penasaran saya menyeret tangan saya untuk membuka sekuelnya. Dilan 1991 sya berharap disini saya menemukan hal yg membuat saya seperti reader lain. Baper dan berpendapat kalau novel ini sangat bagus, bikin baper etc. Dan mulailah saya buka lembaran demi lembaran novel sekuelnya...dengan berusaha menikmati kalimat kalimatnya yg tak ubahnya spt novel sebelumnya. Hingga sampai akhir saya finish membaca novel ini. Yups saya menemukan klimaks.nya. yakni ketika dilan milea putus. Dgn alasan yg tak masuk akal. Dan itu pun biasa saja menurut sya. Bukan klimaks yg berarti. Siapa sih yg gg nyesek ketika di putusin. Apalagi masih sayang-sayangnya. Yupz sebatas kalimat itu sdh mewakili klimaks dilan '91. Tak putus asa saya masih penasaran dgn apa faktor x dr novel ini. Knp begitu digilai. Sya baca triloginya yg berjudul milea "suara dari dilan" saya yakin di sini saya menemukan hal spt reader lain...bikin mewek klimaks yg spt naik roalcoster atau yg lain. Tapi sayang sekali lagi saya di bikin kecewa dgn novelnya. Knp ini hanya pengulangan kisah dari awal. Cuma sett.nya diganti aku disini adalah dilan. Semua kisah dari awal diulang. Membuat jengah...isinya tentang susah move on.nya dilan milea. Mana sih perjuangan seorang dilan. Ya saya tak.mau menyalahkan hal itu. Krn ini real story. Jadi wajarkan kalau kisahnya lempeng dan biasa saja spt kisah cinta kalian.
Sooo ketika film ini munculpun saya masih di buat kesal sama novelnya. Settingan marketing untuk membuat film ini laris pun begitu gencar. Mulai dari tarik ulur pemain, kuis siapa pemeran dilan. Tak sadar tim telah membuat penggemar begitu gelisah. Banyak war antar fans dsb. Tapi sya tak terlalu mengikuti hal itu. Yg saya tau dgn bnyak kontra terpilihnya iqbal pun itu adalah hal yg diinginkan tim. Dengan begitu org yg tidak tau apa apa menjadi tau krn iqbal bukan selebriti baru. Dia sdh banyak.penggemar. dan orang yg tak baca novelnya pun jadi sangat ingin lihat film.nya. gegernya pemeran dilan ini saja sudah menyeret jutaan orang hanyut di dalamnya. Tanpa memikirkan bagaimana novelnya, ceritanya dsb.
Dan sesuai prediksi serta harapan marketing sih film ini begitu membludak. Dgn perolehan pnonton 1 juta dlm 4 hari. Dan hal itu membuat jutaan pasang mata dan telinga penasaran dgn film ini. Tanpa tau bagaimna novelnya. Tapi banyak juga penggemar novel yg gencar. So bnyak faktor yg membuat film ini laris.
Tapi sekali lagi saya ttp berprinsip saya tidak akan bilang bagus kalau menurut saya gg bagus.
So nikmatilah dilan kalau mnurut kalian bagus.
Jangan lupa setiap karya yg sangat di butuhkan adalah value atau pesan tersirat.
Saya blm bisa review filmnya krn sya gg nonton. Alasan saya gg nonton adalah saya tak mau bohong pada diri sendiri. Sya kecewa dgn novelnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agamamu bukan agamaku tapi kamu tetap saudaraku